{"id":1822,"date":"2015-07-08T10:58:49","date_gmt":"2015-07-08T03:58:49","guid":{"rendered":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/?p=1822"},"modified":"2024-10-21T02:53:54","modified_gmt":"2024-10-20T19:53:54","slug":"presentasi-laporan-akhir-program-cegs-ui-batch-2-tahun-20142015","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/presentasi-laporan-akhir-program-cegs-ui-batch-2-tahun-20142015\/","title":{"rendered":"Presentasi Laporan Akhir, Program CEGs UI Batch 2 Tahun 2014\/2015."},"content":{"rendered":"<p><strong>Presentasi Laporan Akhir akan dilaksanakan pada Selasa, 7 Juli 2015 di Gd. ILRC-DRPM UI, Lantai Mezzanine.Program CEGs UI Batch 2 Tahun 2014\/2015.<\/strong><\/p>\n<p>Departemen Geografi FMIPA-UI melalui :<br \/>\n1.\u00a0<strong>Dr. Eko Kusratmoko bersama Adi Wibowo, SSi., MSi<\/strong>\u00a0dengan judul Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengurangan Risiko Bencana Alam Melalui Pembentukan Desa Tangguh Bencana. (ringkasan laporan belum diterima admin web)<br \/>\n2.\u00a0<strong>Taqyuddin (Geografi) bersama Dr. Ali Akbar (FIB sebagai ketua )<\/strong>\u00a0dengan judul Program Pembuatan Jalur Kunjungan dan Pelatihan Pengetahuan Arkeologi di situs Batu Naga (dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kecamatan Karang Kencana Kabupaten Kuningan).<\/p>\n<p><strong>Ringkasan\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pembuatan Jalur Kunjungan dan Pelatihan Pengetahuan Arkeologi di situs Batu Naga (dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kecamatan Karang Kencana Kabupaten Kuningan).<\/strong><\/p>\n<p>Masyarakat dusun Banjaran sering menyebut sebagai situs batu tulis. Batu tulis tersebut merupakan batu tegak atau menhir yang dipahat sehingga menghasilkan relief. Relief pada batu tersebut terdiri atas motif hewan, manusia, rumah, dan motif geometris. Motif naga berukuran lebih besar dibandingkan motif lainnya sehingga situs tersebut diberi nama dengan Situs Batu Naga.<\/p>\n<p>Pembuatan jalur pendakian bersama\u00a0warga dusun Banjaran dari ketinggian 600 mdpl &#8211; 1300 mdpl. Dalam perjalanannya anatar tim pengabdi dari UI saling tukar pikiran tentang kondisi geografis dan situs batu naga. Hasil kegiatan ini berupa jalur dan tanda-tanda pendakian ke situs, tanda, peta lokasi yang digabung dalam buku panduan.<\/p>\n<p>Penyebarluasan informasi riset berupa pelatihan kepurbakalaan agar warga memperoleh pengetahuan mengenai situs tersebut. Selanjutnya dilakukan pelatihan berupa tanya jawab dan warga berperan sebagai pemandu menjelaskan informasi situs. Hasil kegiatan ini berupa modul pelatihan dan buku panduan singkat mengenai kepurbakalaan untuk pemanduan.<\/p>\n<p>Indikasi keberhasilan program terlihat dari pemahaman pengetahuan arkeologi yang selama ini hanya diperuntukan bagi kalangan akademisi semata, sekarang sudah menjalar ke kalangan masyarakat awam. Diharapkan kepedulian masyarakat terhadap tinggalan masa lalu yang masih banyak terpendam di dalam tanah di lingkungan perumahan penduduk menjadi meningkat sehingga upaya pelestarian dapat tercapai serta bermanfaat secara langsung bagi warga yang terlibat dalam program ini.<\/p>\n<p><strong>Perubahan-perubahan yang Dilakukan (sebelum dan setelah program)<\/strong><\/p>\n<table style=\"height: 701px;\" width=\"857\">\n<thead>\n<tr>\n<td width=\"36\"><strong>No<\/strong><\/td>\n<td width=\"234\"><strong>Kondisi Sebelum<\/strong><\/td>\n<td width=\"247\"><strong>Kegiatan yang dilakukan<\/strong><\/td>\n<td width=\"227\"><strong>Kondisi Setelah<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"36\">1<\/td>\n<td width=\"234\"><strong>Jalan setapak<\/strong> yang menghubungkan desa terakhir dengan tinggalan arkeologis Batu Naga hanya merupakan jalur pendakian yang masih cukup tertutup, biasa digunakan masyarakat untuk berburu dan mencari kayu bakar<\/td>\n<td width=\"247\"><strong>Tim pengabdi<\/strong> beserta kelompok perwakilan dusun Banjaran melakukan pemetaan jalur menggunakan GPS untuk memperlihatkan kondisi medan serta kemiringan. Selain itu, dapat menghasilkan gambaran rencana letak <em>shelter\/<\/em>tempat istirahat<\/td>\n<td width=\"227\"><strong>Jalur<\/strong> yang dipetakan sepanjang <u>+<\/u>3 Km jarak datar ke arah selatan dari dusun terakhir. Ketinggian jalur\u00a0 700m, yang artinya para wisatawan akan mendaki dari ketinggian 600mdpl ke 1300mdpl. Terdapat 5 (lima) <em>shelter\/<\/em>tempat istirahat sepanjang jalur.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"36\">2<\/td>\n<td width=\"234\"><strong>Calon pemandu<\/strong> yang merupakan perwakilan dari masyarakat dusun sekitar masih belum memiliki wawasan pengetahuan, baik tentang peninggalan situs batu naga, maupun keanekaragaman hayati yang ada.<\/td>\n<td width=\"247\"><strong>Mengajak<\/strong> para calon pemandu tersebut melakukan survey bersama-sama tim pengabdi dan secara bertahap memberikan materi untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan mereka<\/td>\n<td width=\"227\"><strong>Hasil<\/strong> evaluasi yang dilakukan memang belum memahami betul dikarenakan tingkat pendidikan yang berbeda. Akan tetapi antusiasme para calon pemandu ini sangatlah tinggi. Nantinya, pembagian kelompok akan dilakukan terdiri dari, pemandu perjalanan, serta pemandu wisata peninggalan situs.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"36\">3<\/td>\n<td width=\"234\"><strong>Kondisi<\/strong> vegetasi sepanjang jalur masih sangat terjaga. Terbukti dengan banyaknya keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna di sepanjang jalur dari dusun terakhir ke peninggalan situs Batu Naga.<\/td>\n<td width=\"247\"><strong>Dilakukannya<\/strong> inventarisasi keanekaragaman hayati sepanjang jalur pendakian. Nantinya hasil dari inventarisasi ini sebagai bahan pemberian label (flora) serta bahan modul bagi para pemandu.<\/td>\n<td width=\"227\"><strong>Para tim<\/strong> pengabdi mengalami <em>experience <\/em>yang cukup beragam, bukan hanya wawasan terkait situs peninggalan Batu Naga tersebut, <em>experience <\/em>yang timbul pun terkait dengan bagaimana menikmati alam dengan suasana keanekaragaman hayati yang disuguhkan sepanjang jalur perjalanan.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>FOTO-FOTO KEGIATAN:<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/bnjrn.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\" size-thumbnail wp-image-1846 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/depok-banjaran-150x150.jpg\" alt=\"depok banjaran\" width=\"150\" height=\"150\" \/><img decoding=\"async\" class=\" size-thumbnail wp-image-1845 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/bnjrn-150x150.jpg\" alt=\"bnjrn\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Jalan-dr-jabranti-ke-Banjaran.jpg\"><br \/>\n<img decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1829 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Jalan-dr-jabranti-ke-Banjaran-150x150.jpg\" alt=\"Jalan dr jabranti ke Banjaran\" width=\"128\" height=\"128\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/700-mdpl.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1830 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/jln-dr-jbrnti-ke-bjrn-150x150.jpg\" alt=\"jln dr jbrnti ke bjrn\" width=\"126\" height=\"128\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1828 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/700-mdpl-150x150.jpg\" alt=\"700 mdpl\" width=\"129\" height=\"131\" \/><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/kecon.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1831 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/kecon-150x150.jpg\" alt=\"kecon\" width=\"129\" height=\"132\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>1. Akses menuju Lokasi dari Jakarta 2. Jalan berbatu dari desa Jabranti ke dusun Banjaran 3. Jalan Batu menuju dusun Banjaran 4. Mang Kusnanda (alias Mang Kecon pemandu dusun Banjaran).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/tim-warga-sketsa.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1836 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Penampang-Melintang-dilihat-dari-Timur-150x150.jpg\" alt=\"Penampang Melintang dilihat dari Timur\" width=\"115\" height=\"115\" \/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1837 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/tim-warga-sketsa-150x150.jpg\" alt=\"tim warga sketsa\" width=\"115\" height=\"115\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga-2.jpg\"> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1835 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/minum-air-batang-rotan-150x150.jpg\" alt=\"minum air batang rotan\" width=\"115\" height=\"113\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1838 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/triangulasi-batas-150x150.jpg\" alt=\"triangulasi batas\" width=\"115\" height=\"119\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1833 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga-150x150.jpg\" alt=\"batu naga\" width=\"124\" height=\"128\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga.jpg\">\u00a0<\/a><a href=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1832 alignleft\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/batu-naga-2-150x150.jpg\" alt=\"batu naga 2\" width=\"127\" height=\"126\" \/><\/a>\u00a0<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-1834 alignnone\" src=\"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/menhir-batu-Naga-150x150.jpg\" alt=\"menhir batu Naga\" width=\"125\" height=\"128\" \/><\/p>\n<p>1. Jalur Pendakian dari dusun Banjaran 2. Diskusi bersama pemandu dusun Banjaran 3. Kondisi Hutan 4. Triangulasi batas Jawa Barat-Jawa Tengah 5 Menhir Batu Naga di puncak Gunung Tilu 6. Temuan disekitar<\/p>\n<p>Demikian ringkasan laporan program pengabdian masyarakat di dusun Banjaran melalui \u00a0Program CEGs UI Batch 2 Tahun 2014\/2015.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Presentasi Laporan Akhir akan dilaksanakan pada Selasa, 7 Juli 2015&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1814,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[57],"class_list":["post-1822","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-batu-naga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1822"}],"collection":[{"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1822"}],"version-history":[{"count":14,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1822\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1851,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1822\/revisions\/1851"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1822"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1822"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aset.sci.ui.ac.id\/geografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1822"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}